Sabtu, 31 Maret 2012

Pernah

Aku mengerahkan rasa yang kupunya pada ujung jemari
Membuatnya menari bersama hujan yang menyapa Bumi

Kamu membenci hujan ?!
Becek ,, lembab ,, basah dan membuatmu merana... 
Namun kita sama-sama mencintai pelangi setelah hujan reda...
Hujan ,, tak selalu menghantarkan rindu...
Terkadang dia mengirimkan tetesan yang memukul dinding masa lalu...

Aku pernah bertanya :: bisakah hujan melarutkan rasa gundah ?!
Sayang ,, hujan terlalu malas untuk berbalas sapa...
Aku pernah mencintai hujan yang membantuku menyamarkan air mata...
Aku membenci kepalsuan tapi harus tersenyum walau duka meraja...

Bagiku ,, romantis bukan ketika menatap hujan yang merintik dalam gerak lambat. 
Tapi merekam setiap senyum yang pernah kamu buat...

Aku pernah merasakan hangatmu memeluk sela jemari...
Memandang keluar jendela ,, menghitung sisa tetes hujan tadi...

Kamu ,, jarang merangkai aksara indah...
Tapi kamu selalu berhasil mengusir air mata dan menghadirkan tawa...
Namun ,, semua yang kini aku genggam hanyalah satu kata "  pernah " 
Bisa kah kamu kembali menjadi kamu?!
Akankah kamu dan aku melebur menjadi kita ?!

karena aku tak pernah suka pada kata pernah ,, tak pernah...

Rabu, 21 Maret 2012

Di Ujung Kata-Kata

Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku
Terkulai terkunyah nalangsa yang berapi-api
Menyusuri jalan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang pongah menghujam
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yang menenggelamkan nurani
Diatas pengharapan takberkesudahan


Tentang rindu kusam
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu diantara keluh kesah
Gundah gelisah ,, air mata dan lara
Masihkah ada senyum sedikit darimu ?!

Dibatas penantianku kini makin terbata
Jika masih ada ruang dihatimu
Untukku  ,, sedikit saja ,, tolong bicaralah
Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan
Setidaknya biar ada tanda yang bisa ku baca dan ku raba

Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena aku selalu berjalan menujumu





Minggu, 11 Maret 2012

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian


Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar. 

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
Aku takut sendirian...



omong kosong

setiap manusia terlahir dengan tangisan...
setiap manusia terlahir dengan senyuman...
setiap manusia terlahir dengan sifat baik...
setiap manusia terlahir dengan sifat yang sombong...
setiap manusia terlahir dengan sifat egois...
setiap manusia itu terlahir dengan berbagai sifat dan perasaan yang berbeda-beda...

tapi setiap manusia mengapa selalu menganggap dirinya selalu benar dan tidak mau disalahkan...
aku menjumpai orang yang seperti itu ,, itulah Dia...
selalu mencemeeh orang ,, selalu menyalahkan orang ,, selalu negatif thinking dan tak pernah memahami perasaan orang yang dia kataain itu...
hhhmmm ,, dia emang pintar ,, jenius dan sebagainya ,, tapi dia tak mempunyai perasaan yang baik untuk sedikit memahi perasaan orang...
percuma kaya tapi suka meremehkan orang yang tak punya...
selalu menganggap orang yang tak punya menyusahkan dirinya...
padahal dirinya yang selalu menyusahkan orang...
kata-kata yang tak bisa akk lupakan sampai sekarang " selalu menyusahkan oarang saja "
hhmmm ,, apa separah itu kah ?
sampai kata-kata itu keluar dari mulutnya ,, tanpa tau bagaimana orang yag mendengar itu...
aku hanya bisa diam mendengar itu semua ,, sakit rasanya kalo teringat kata-kata itu...
aku tau kalau aku dan keluarga adalah orang yang tak punya ,, tapi pliisss ,, gak usah ngatain segitunya...
baru hal sepele kayak gitu kata-kata yang keluar seperti duri yang tak bisa ditahan lagi sakitnya...
sakit ,, sesakit sakitnya...

setiap orang bisa mengajarkan begini begitu...
tapi tidak setiap orang mampu mengajarkan itu pada keluarganya...

aku sudah sering memikirkan itu...
waktu kecil aku disuruh ini itu ,, masak ,, nyuci baju ,, cuci piring ,, nyetrika ,, dan sebagainya yang tak bisa disebut satu-satu...
katanya sih supaya besar tidak merepotkan orang ,, kalo tak dari kecil dari kapan lagi belajar kayak gini...
toh ,, semua hanya untuk orang lain...
kenapa sama anaknya sendiri tidak diterapkan ,, malah dimaja-manjakan...
hhmm ,, emang aneh ya sifat manusia ?


capek nulis terus ,, ini adalah isi hati akk yang lama udah terpendam ,, jadi akk tulis di blog akk aja ,, dari pada diary bisa ilang ilang...
keep smile aja buat diri aku sendiri...